Perjalanan pulang dimulai bukan saat kendaraan keluar dari terminal, tapi saat aku sadar bahwa lima tahun terlalu lama untuk tidak pulang.

Di dalam angkutan

Angkot tua itu penuh. Kostum, kardus, dan satu kardus ayam yang sesekali berkoar membalas goyangan. Aku duduk di dekat jendela, dan seiring kabut menipis, kenangan mulai menebal.

Setiap jembatan punya cerita. Banyak yang sudah kujadikan cerita orang dewasa — padahal lima belas tahun lalu aku masih memancing di bawahnya dengan pancing bambu.

Sesampainya

Ibu menyambut dengan cara khas: makan dulu. Semua pertanyaan dialihkan ke meja makan. Berat badan, pekerjaan, jodoh — semua dibahas di antara suapan.

Aku baru sadar, rumah lapang yang dulu kurasakan penuh dengan suara sekarang terasa sunyi di sudut-sudutnya. Tapi sunyi itu bukan kosong. Sunyi itu adalah ruang untuk mengingat.

Yang paling berkesan

Bapak tidak banyak bicara, seperti biasa. Tapi malam harinya, di teras, dia bertanya satu hal:

"Sudah tenang?"

Pertanyaan kecil, jawaban panjang. Aku bercerita tentang kota yang menuntut, pekerjaan yang kadang terasa seperti panggung, dan itu semua tidak aku ceritakan kepada siapa pun.

Pulang kampung ternyata bukan tentang tempat. Ia tentang orang-orang yang membuat tempat itu terasa seperti rumah.

Pulang bukan prolog

Seringnya kita menunda pulang karena menunggu "sukses dulu". Padahal, seperti disadari banyak orang, mereka yang menunggumu bahagia tidak menuntut bukti — mereka hanya ingin melihatmu utuh.

Di angkutan pulang, aku membuat janji: tidak akan menunggu lima tahun lagi.